CHANDRAGUPTA MAURYA 17
By Made Titis Maerani
Index Sinopsis : Durdhara mengajak Chandragupta memasuki tempat pemandian parawa wanita, Mura tahu siapa yang dicari Cahndragupta dan memintanya untuk datang menemuinya digerbang uttara selatan hutan merah, dengan diam-diam Daaima yang berhati jahat menguping dan mengawasi pembicaraan Mura dengan Chandragupta dan datang memberitahu pada Dhananad tentang rencana Mura. Durdhara merasa kecewa dengan Chandragupta yang pergi tanpa pamit dan datang menemuinya. Dhanand bertekat untuk memuhi semua janjinya pada Mura untuk memgahiri hiudp putra Mura dan jua keshatriani di dalam dirinya
Chandragupta datang ke musium dimana baju besi/ prisai dan senjata mendiang Chandravardan disimpan. Chandra menyentuh dan mengambil pedang dan merasakan sesuatu, ia berfikir"kenapa aku merasakan keakraban itu disini?".
Mura berjalan di lorong istana dan mencemaskan Chandragupta, kilas balik ditampilkan ketika Mura mulai gelisah saat Chandragupta bertarung dengan harimau buas dan mengenalinya saat Chandra mengambil kembali gelang milik ibunya dan dengan penuh keyakinan bahwa anak laki-laki itu adalah Chandragupta, dan Dhananand memintanya untuk memeluknya dan janji Dhananand yang akan menyelesaikan masalahnya dengan membunuh putranya yang telah lama mengilang.kilas balik berakhir
Mura berfikir"aku harus segera menemukan Chandragupta". Mura bertanya pada seorang pelayan wanita yang saat itu akan menghantarkan minuman "dengarkan aku, pernahkah kau melihat pangeran peeplivan?". Pelayan itu menjawab dengan sinis",aku tidak oeduli dengan budak/pelayan yang berpura-pura menjadi pangeran hanya sehari.., aku juga tidak peduli dengan pelayan seperti mu yang masih menganggap dirinya seorang ratu". Mura menangis, pelayan itu pergi dan tidak menghiraukannya.
Mura mengingat, ketika Chandragupta datang untuk peryama kalinya ke istana sebagai pangeran, saat itu chandragupta ketika ia bertanya mengapa Mura terus memarahinya seperti ibunya. Kilas balik berakhir.
Mura kembali berjalan mencari Chandragupta. Durdhara berteriak berkata pada Chandragupta" apa yang terjadi?". Chandragupta berkata" aku..aku akan segera kembali". Chandragupta berlari keluar menemui Durdhara dengan membawa pedang di tangannya. Dirdhara tertawa " apa masalahnya?".., apakah pedang ini relah menghancurkan kebetanian mu?".., sepertinya kau masih belum siap untuk berduel?".
Chanragupta memperhatikan pedang itu, ia berfikir" aku tidak tahu bagaimana caranya beryarung dengan pedang, bagaimana aku akan melakukannya?". Chandraguota menjawab" aku siap". Durdhara marah dan menyerang Chandragupta, Mura terkejut saat melihat pedang milik suaminya mendiang Chandravardan menghilang, ia beryanya-tanya"dimana pedang suami ku?".., siapa yang sidah berani.menyentuh pedang raja Peevipan?". Mura juga di kejutkan saat mendengar suara pedang saling beradu satu sama lain, Durdhara terus menyerang Chandragupta sebisa mungkin menangkis dan menghindari serangannya dan membuat muta tidak tega dengan Chandra dan menahan dirinya untuk mengeluarkan rasa cinta keibuannya dan tidak berdaya"Apa yang salah dengan ku?"..,mungkin aku akan membahayakan nyawa putra ku, dengan menunjukkan kepedulian terhadap putra ku di depan adik perempuan raja Dhananand". Chandragupta terus menghindar dari serangan pedang Durdhara dan mendapat kesemoatan untuk menutup wajahbDhurdara dengan Dupptanya, mematakhan serangannya dan menjatuhkan pedang. Chandraguoya tertawa dan berkata pada Durdhara" aku menang!".., kau telah kalah". Durdhara marah" ini dalah, kau curang". Chandraguota berkata pada Durdhara" semua adil dalam cinta dan perang, putru ku tersayang!". Mura tersenyum. Durdhara berkata" kau tidak bisa menggunakan pedang mu, tapi kau bisa membuat klaim/ pendapat yang tinggi". Chandragupta berkata pada Durdhara" lupakan saja aku, kau seorang putri!".., dan apakah kau ingat dengan janji mu?".., kau jarus menunjukan kamar itu sekarang". Durdhara menjawab" keluarga kerajaan tidaj pernah melupakan janjinya".., ikutlah dengan ku". Chandtagupta memintanya menunggu, ia berkata pada Durdhara" aku harus menyimpan pedang ini di tempatnya". Chandragupta berlari untuk mengembalikan pedang itu ke tempatnya, Chandragupta akan menaruh pedang itu ditempat semula, ia berguam"aku bersyukur!".., dikatakan bahwa pedang bisa memotong.., tapi hari ini karena pedang ini aku akan bisa bersatu dengan ibu ku". Mura datang dan betdiri di belakang Chandragupta. Chandragupta berguam" orang yang dengan ikatannya terputus". Mura tersenyum. Chandra mengecup pedang dan menaruhnya ditempatnya semula. Mura memanggilnya" Chandra". Chandragupta terkejut saat merasakan suara wanita(Mura), ketika Chandra tidak melihat sosok siapapun, Mura telah hilang, Chandragupta melihat kesekelilingnya dan bertanya-tanya" mengapa aku merasa seperti ada yang memanggil nama ku?".., tidak ada seorang pun disini yang tahu nama ku, jadi siapakah itu?". Durdhara mengejutkannya" apa masalahnya?".., sepertinya kau berubah pikiran?".., haruskah aku juga merubah pikiran ku?". Chandragupta menjawab" tidak, aku akan segera kembali sekarang". Chandragupta kembali.menemui Durdhara. Maitri membawa Mura ke tempat yang aman dan membekapnya, Maitri berksta" aku tahu dia putra mu, Mura!". Maitri melepaskan bekapannya. Maitri berkata pada Mura"ya, untuk menyelamatkan hidupnya, aku melarang mu untuk bertemu dengannya"
Mura mengingatnya kilas balik ditampilkan ketika Maitri yang telah mengungkap jubah milik putranya, mura neralasan bahwa dia tidak tau jubah milik siapa, Dananand membakarnya dan tahu bahwa putra Mura masih hidup, dan Maitri melakukannya untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Kilas balik berakhir.
Mura bertanya pada Maitri" permainan apa yang kau mainkan sekarang, Maitri, kepala pelayan wanita?". Mura berjalan pergi, Maitri menahannya, Maitri berkata pada Mura"aku juga seorang pelayan wanita, tapi apakah aku mendukung Magadha?".., Mura, kita punya tujuan yang sama". Mura berkata pada Maitri" jangan betmain-main dengan ku".., karena kau mereka mengatahui putraku masih hidup". Mura menghindar , Maitri berkata",ya, aku harus melakukannya, untuk memenangkan kepercayaan raja, aku harus melakukannya.., inilah yangvdilakukan para informan rahasia.., dan jika kau tidak mau mendengarkan ku.., putra mu tidak akan bertahan disini".
Muta terkejut. Dhananand mencukur rambut seorang oria dengan wajah penuh amarah. Dhananand mengingat kedekatan Mura dengan Chandraguota dan Rakjsas berkata"apakah kau melihatnya, seoertinya Mura putus asa untuk menunjukkannrasa keibuannya lagi" dan saat Dhanand memerintahkan Rakhsas untuk ingin tahu seberaoa kuatnya dugaan Amtya Rakhsas karena itu bukan lagi seorang pelayan tapi pewatis/ penerus Peeplivan dan Amatya Rakhsas meyakinkan Dhanandnd untuk mencari informasi uang bisa dolakukannya. Kilas balik berakhir. Dhananand membunuh pria yang telah di cukurnya dengan pisau cukurnya, pria itu menjerit kesakitan. Dhananandbbetkata dalam.amarahnya" kebenaran Mura dan Chandragupta akan terungkap.
Durdhara membawa masuk Chandragipta ke tempat pemandian waniita. Durdjara berkata pada Chandragupta"kakak ku selalu memilih yang terbaik.., apakah kau setuju?". Chandragupta menjawab",tentu saja". Durdhara tersenyum. Chandragupta berguam dan melihat sekelilingnya" bagaimana cara aku mengetahuinya.., siapakah dia?". Durdhara terkejut, ia bertanya pada Chandragupta'" apa kata mu?". Chandragupta tersentak, ia tertawa berkata" tidak, aku baru saja mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada disini yang kecantikan dan juga cahayanya di bandungkan dengan diri mu?".., tidak ada seorang pun yang ada disini seperti diri mu". Durdhara tersenyum.
Mura datang membawakan minuman Durdhara menolaknya. Muta bertemu Chandragupta, Chandraguota berkata" oh itu kau!".., kau aneh!".., ketika aku.memintanya kau tidak mau membetikannya, coba lihat sekarang".
Durdhara terkejut dan bertanya"apa.., apakah pelayan wanita ini menolak pesanan/ permintaan mu?". Mura sengaja menjatuhkan nampan dan minuman itu di depan Chandragupta. Dirdhara berguam"luar biasa". Mura berkata pada Chandragupta “Aku tahu siapa yang kau cari, setelah matahari terbenam temui aku di gerbang selatan hutan merah”. Dengan diam-diam Daaima mendengar dan memata-matai Mura. Daaima datang memberitahu pada Dhanand “ Mura menahan kita dalam kegelapan dan membohongi kita semua.., kau benar pangeran yang datang kesini selama sehari adalah putra Mura dan dia”..
Daaima terkejut saat melihat Dhananad menghilang dari singgasananya, Dhananad tertawa bermain petak umpet dan menggoda Daaima. Daaima kesal dan terus mencari keberadaannya saat Dhananad menunjukannya namun Dhananad kembali menghilang. Daaima bertanya pada Dhanand “ Apakah kau pikir aku tertarik dengan permainan ini?”. Dhananad tertawa terbahak-bahak dan berkata pada Daaima “ Ya Daaima, Mura sedang bermain petak umpet dengan kita dan sekarang aku juga akan berlatih giliran ku”. dhananad muncul secara tiba-tiba muncul di belakang Daaima den mengejutkannya, ia tertawa dan bertepuk tangan.
Dhananad mengatakan pada Daaima “ Kita harus bersembunyi dan anak itu akan bertemu dihutan merah”. Daaima bertanya “ Kenapa harus melakukan itu?”. Dhanand menjawab “kau masih terlalu polos”. Daaima berkata pada Dhanand “ Apa?”. Dhanand menjawab “Balas dendam adalah hidangan yang paling baik di sajikan saat dingin!”.., birakan keduanya bertemu dan biarkan mereka berdua bersatu .., biarkan mereka saling menangis dan kemudian aku akan membunuh pangeran peeplivan sampai mati setelah bertemu dengan ibunya.., dia akan bertemu dengan mendiang/ almarhum ayahnya”.., aku adalah kaisar”.., aku tidak bisa menganggar janji ku”. kilas balik di tampilkan ketika Dhananad mengatakan didepan Mura bahwa ia akan membawa putranya kedepan matanya dan kemudian mengakhiri masalahnya yang tidak lain adalah putranya sendiri tepatb didepan matanya. Kilas balik berakhir.
Dhananad mengatakan berkata pada Daaima “aku akan memenuhi/ menepati janji ku dengan membunuh putra Mura didepan matanya dan kematian putra Mura akan menghancurkan keberanian Khastriani itu”. Daaima dan Dhanand tersenyum puas.
Mura datang kemusium dimana baju besi dan senjata perang mendiang suaminya di simpan, ia berfikir “ Putra ku, aku pasti akan membalaskan dendam pada Dhannaad, kematiannya sudah dekat, suami ku”.
Durdhara duduk dengan rasa putus asa di tepian pinggiran pilar istana dan menggoyang-goyangkan dirinya dan membahayakan dirinya, ia mengingat Chandragupta yang memintanya untuk menunjukkan pemandian khusus wanita setelah berhasil mengalahkannya. Daaima tersentak kaget saat melihat Durdhara dan berlari menghampirinya “Durdhara..Dhurdhara apa yang kau lakukan, sayang?”. Durdhara bertanya adalm kecewa “siapakah aku?”.., Durdhara!.., aku putri Durdhara, adik kesayangan kaisar Dhanand.., Durdhara yang diseluruh Negeri tidak ada wanita yang terampil, cantik dan kaya seperti aku.., dan aku telah melwan anak itu dan menuruti aturannya setelah dikalahkan aku bahkan menepati janji ku.., aku menunjukkan seluruh ruangan dan apa yang dia lakukan pada ku?”.., tanpa datang menemui ku atau memebritahu ku dia pergi, bukankah seperti itu kurang ajar”.., tidak ada yang pernah menyinggung ku dengan cara ini sebelumnya”. Daaima mentertawakannya, Durdahra bertanya “ Apakah kau benar-benar tertawa?”. Daaima menjawab “Iya”.., seharusnya kau marah, aku senang melihat mu kesal.., Putri Durdhara, adik perempuan kaisar Dhanand harus memiliki harga diri dan ketika ego mu terluka, seharusnya kau memang marah”. Daaima perlahan mendekati Durdhara berkata “Rasa sakit ini cocok untuk mu tapi air mata ini tidak”. Daaima mengusap air mata Durdhara dan membawanya ketempat yang aman. Daaima berkata pada Durdhara “ Air mata mu ini membuktikan bahwa kau lemah, jangan dengan air mata ini”. Durdhara berkata pada Daaima “tapi jika dia harus pergi bukankah dia bisa menemui ku dulu”.
Daaima berkata pada Durdhara “ Anggota keluarga kerajaan memiliki banyak tanggung jawab untuk dipenuhi, pangeran Peeplivan itu telah pergi tanpa datang menemui mu karena diluar sana dia akan bertemu dengan dua orang penting”. Chandragupta ditampilkan berjalan ke hutan merah seorang diri untuk menemui Mura. Daaima berkata pada Durdhara “ Orang yang telah menlahirkannya / ibunya” (Mura ditampilkan berjalan dilurung istana untuk menemui Chandragupta) .. dan orang yang akan menghabisi nyawanya” ( Dhananad dan Amathya Rakhsas berjalan untuk menyusul ke hutan merah dan membututu Mura). Mura bersembunyi saat beberapa prajuirt datang melewati lorong yang sama. Semua prajuirt berlutut dan menundukkan kepalanya ketika Dhananand melewati jalan merka dan akan membututi Mura. Chandragupta sendirian menatap gelang milik ibunya.
Comments
Post a Comment