CHANDRAGUPTA MAURYA 25
By Made Titis Maeani
Index Sinopsis :Mura menjelaskan niatnya kepada Chandragupta bahwa dia tidak akan sujud di depan Dhananand. Dia tergerak oleh perhatian Chandragupta untuknya yang tidak menyadari fakta bahwa dia adalah ibunya. Sementara itu, Durdhara menghasut pengawalnya sebelumnya, Shamandev melawan Chandragupta. Meski menghadapi Shamandev dan rekan-rekan pengawalnya, Chandragupta dengan cerdik berhasil keluar dari masalah. Di tempat lain, Dhananand menjelaskan rencananya untuk Chandragupta kepada Daimaa. Kemudian, Chandragupta tergerak oleh permohonan ibu petani yang memohon belas kasihan.
Mura berkata pada Chandragupta"pedang yang kau pakai disisi mu, pandai besi itu memukulnya berkali-kali untuk menempanya.., dengan serangan itu pedang menjadi perkasa dan dengan serangan yang sama, percikan kecil api pemberontakan ini akan menjadi api yang mengamuk".., dan kau akan melihat kutukan ku akan mengakhiri Dhananand".
Chandragupta berkata pada Mura" aku juga yelah mengatakan kepada mu sebelumnya bahwa aku tidak tertatik dengan kemenangan atau kekalahan seseorang, aku akan sujud dan bekerja disini dan akuu akan mencari ibu ku". Chandragupta bertanya pada Mura" katakan pada ku dimana aku harus mulai mencari ibu ku?". Mura menjawab" bukankah kau sangat dekat dengan raja?".., tanyakan saja dia". Mura mengabaikan Chandragupta dan kembalu mengucej jubah yang penuh noda darah mendiang Veerbadhra.
Chandragupta berkata" ini salah ku, aku mengajukan pertanyaan kepada seorang ibu yang lagi sedih, harusnya aku mengatakan sesuatu?".., noda darah tidak akan pernah bisa di cuci, kau membuang-buang waktu dan energi mudengan mencuci pakian ini.., cuci saja dengan air dan keringkan tidak perlu kerja begitu keras". Chandragupta pergi.
Mura meangis berguam" kau benar, Chandragupta.., noda darah tidak akan pernah bisa di cuci, kau tidak yahu bahwa akulah ibu mu, tapi kau madih bisa merasakan rasa sakit ku.., aku bisa dengan jelas melihat kekhawatiran untuk ku dimata mu". Mura mengusap air matanya berkata",aku akan melihat kekalahan Dhananand dimata ini suatu saat nanti".
Dhanand mengunjungi dapur istana bersama Amatya Rakhsas. Dahananad mengatakan "Potong semuanya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil". Pelayan memotong bawang merah di depam Dhananad, Dhanand meminta potongan bawang yang lebih kecil lagi. Dhananad berkata "setelah memotongnya lebih kecil bawang ini akan di campurkan dengan bumbu".., bukankah bau dan juga rasanya akan hilang?". Pelayan berdiri dan membungkukan badannya berkata pada Dhanaand "Iya yang mulia, itulah sebabnya kami mencoba untuk memastikan bahwa bawang tidak dicincang dengan sangat halus agar tidak kehilangan bau dan juga rasanya". Dhanand tersenyum dan bertanya pada Amatya Rakhas "apa yang telah kau pelajari dari ini, Amatya ?". Amatya Rakhas menjawab "seleucus akan selalu menyerang secara diam-diam, sehigga kita tidak menyadari tanda dari serangan (menindikasi) apapun".., ketika serangannya besar dia akan meninggalkan bukti dan tanda (indikasi) dan nama musuh akan terungkap.., ketika serangannya lebih kecil seperti misalnya protes seroang petani bawang .., kami bahkan tidak memikirkan musuh ada disana, tapi melakukan ini akan merusak keternaran dan juga reputasi mu dan nama Seleucus juga tidak akan terungkap". Dhananad sangat puas dengan jawaban Amatya Rakhasas "Bagus.., bagus.., petani yang menanam bawang dan menghentikan adik ku Durdhara, kan?". Rakhas menjawab "Iya yang mulia". Dhanand menlemparkan potongan bawang mereah keminyak yang telah panas dan menggorengnya". Dhananad berkata pada Amatya Rakhas "sebelum bawang cincang ini meneteskan air mata.., mari kita menggorengnya". Rakhas menjawab "itulah yang akan terjadi, Yang mulia".
Durdhara berkata pada seorang prajurit "Seorang anak laki-laki yang masih belum dewasa mendapatkan rasa hormat yang lebih dari mu mu.., dari raja mu, Shamdev".., kau yang telah menjadi penhawal ku selama 5 tahun, anak itu akan mengambil rasa hormat mu dan kau.., kau hanya diam".., ini sangat mengejutkan.., bukankah kebenarian dan harga diri mu memprovokasi mu?". Shamdev menjawab "Ini adalah perintah (Tantangan) raja, Putri".., bagaimana aku bisa melawannya?". Durdahara berkata "setelah mendengarkan pemikiran mu, aku pikir keputusan raja mu itu benar.., bagaimana mungkin orang yang tidak bisa memperjuangkan haknya bisa melindungi ku?".., Shamdev, pembuluh darah mu mengandung darah atau air?". Shamdev menjawab "bukan darah tapi kebaranian mengalir di dalam darah ku dan aku telah memebrikan bukti yang sama dari waktu ke waktu.., kau benar sekali.., aku hanya diam mengikuti perintah raja, tapi sekrang tidak akan lagi".., sekarang aku pasti akan memperjuangkan hak ku". Durdara senang berkata pada Shamdev"sekarang kau telah berbicara seperti peria pemberani".., pergilah dan perjuangkan hak mu, kau pasti akan muncul sebagai pemenang". Shamdev pergi. Durdhara tersenyum senang. Shipra hanya memperhatikan dan terdiam.
Durdhara menyelesaikan lukisannya, Shipra bertanya "Mengapa kau melakukannya, putri?".., apakah kau akan melawan kakak mu sendiri dan raja Magadha, Dhananad". Durdahara berkata "Didunia ini akulah satu-satunya yang kesalahan terbesarnya diampuni oleh raja".., tapi sekrang pelayan itu telah memasuki tempat ku, raja tidak hanya memaafkan kesalahannya tapi juga menghormatinya".., aku tidak bisa membairakannya, Shipra".., aku tidak akan membiarkan situasi seperti itu muncul dimana pelayan itu bisa setara dengan ku".., tunggu saja dan perhatikan, bagaimana aku menyingkiran rintangan di dari hidup ku". Durdhara menyelesaikan lukisannya sendiri "Luar biasa!". Durdhara bertanya pada Shipra "apakah kau melihat lukisan ku?".., apakah ada didunia ini yang lebih cantik dari ku?". Durdhara melukis dirinya sendiri dan memperlihatkan luksiannya pada Shipra. Shipra tersenyum senang saat melihat lukisan itu.
Chandragupta berjalan, namun Samandev sengaja menabarkan dirinya pada Chandragupta. Beberapa orang prjurit datang. Chandragupta tertawa dan bertanya pada Samandev "mengapa kau menatap ku seperti itu?".., aku pengawak putri Durdhara, aku hanya melakukan tugas ku". Samandev menjawab "Aku tahu".., tapi mungkin kau tidak sadar bahwa aku adalah pengawal tertua sang putri". Cahndragupya bertanya "Betulkah begitu?".., aku senang bertemu dengan mu".., bisakah aku pergi sekarang?". Chandragupta akan berjalan pergi namun Samandav menghentikannya dan mendorongnya "Kau bisa pergi".., tapi berikan pedang pada kami sebelum pergi". Chandraguptra melihat beberapa pedang disudut dan Samandev mentertawakannya. Durdhara keluar menyaksikannya bersaka Shipra dari kooridor luar istana.
Samandev berkata pada Chandragupta "aku telah medengar bahawa sebelumnya kau seorang budak/ pelayan, jadi kau harus sadar bagaimana kau mematuhi pernitah". Durdhara menyeringai. Chandragupta mengambilkan tumpukan pedang itu dan memberikannya pada Samandev dan juga rekan-rekannya namuin Durdhara, Samandev dan semua perjurit mentertawakan Chandragupta ketika ia berjalan hampir terjatuh karena memabwa banyak pedang di tangannya. Samandev mengejek Chandragupta "anak itu tidak mampu untuk memikul beban".., ayo, mari kita kurang bebannya". Durdhara mentertawakannya. Samandev dan teman-temannya mengambil pedang mereka dan mengepung Chandragupta. Samandev terus menghalangi Chandragupta dan bertanya "Jadi kau ingin memasuki istana?".., maka terlebih dahulu kau harus mengalahkan aku, sehingga aku bisa yakin bahwa untuk menjadi pengawalnya atau tidak". Samandev mengarakhan pedangnya di dada Chandragupta". Durdhara yang angkuh melirik Shipra. Chandragupta mengelurkan pedangnya dan para prajuirt mengelilinginya dan satu persatu berduel dengan Chandragupta. Chandragupta berkata "kalian semua telah membuat kesalahan.., raja sendiri yang telah menunjukku untuk posisi ini". Samandev berkata "dan kami yang akan membuktikan kepada raja bahwa bagaimana mungkin sesorang yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri dapat melindungi sang putri?". Chandragupta terus mendapatkan serangan dari Samandev dan teman-temannya, mereka berhasil melukai Chandragupta dan Durdhara tersenyum senang, Chdnragupta terjatuh ditanah dan Durdhara bertepuktangan "Bagus".., itu sangat menabjubkan".Chandragupta melihat Durdhara, Samandav mendapatkan isyarat dari Durdara untuk membunuhnya. Chandragupta hanya terdiam dan Samandev tertawa.
Daaima berkata pada Dhanand sambil memijat kakinya "Dahanand, ada sesuatu yang menganggu pikiran ku dan hal ini berkaitan dengan Durdhara". Dhanand bertanya "apa yang terjadi pada adik ku?". Daaima berkata "Keselamatan Durdhara adalah tugas terpenting Magadha dan kau telah menyerahkan tugas itu pada seorang anak kecil.., untuk seorang pelayan yang tidak memiliki pengalaman, dia tidak tahu bagaimana menggunakan pedang". Dhanand menjawab dan mengingat ketika Chandragupta bertarung melawan Macan "aku setuju dia tidak bisa menggunakan pedang .., tapi dia lebih tajam dari pada pedang.., mungkin dia tidak memiliki pengalaman, tapi dia pemberani dan tidak takut.., dia bisasa tapi dia memiliki semangat yang luar biasa, setiap kali dia menjadi agresif dia tidak berjalan.., dia terbang".., Mungkin hari ini dia akan menjadi pelayan, tapi keperibadiannya memiliki ciri-ciri seorang pemimpin, dia tahu bagaimana memimpin".., Daaima, kau punya dua pilihan setelah apa yang dia lakukan".., pertama, kau harus membunuhnya, tapi jika aku melakukannya bakat dan kepahlawanannya akan sia-sia".., kedua, seharusnya aku menghukumnya dengan melakukan hal itu dia akan muncul sebagai musuh terkuat ku di masa depan dan mungkin saja akan berdiri dengan pasukannya ". Daaima tertswa dan menggelengkan kepalanya, ia berkata "Dahanand.., kau terlalu mementingkan budak/pelayan itu". Dhananad menarik kakinya dan membuat Daaima terkejut. Dhanand mengatakan pada Daaima "Itulah perbedaan antara kau dan aku.., padangan kedepan.., kau tidak memiliki kualitas pandangan jauh kedepan seperti aku dan karena aku diatas sini dam kau ada dibawah kaki ku"
Dhananad berkata pada Daaima "Sebuah berlian memiliki kualitas sedemikian rupa sehingga ketika berada ditengaj musuh itu bisa menjadi senjata untuk melawan kita dan jika bersamakita itu bisa menjadi perhiasan.., jika anak laki-laki terampil dan berbakat menerima bimbingan yang tidak tepat maka dia akan melawan ku dan karena itu aku menjadikannya milik ku!".., sekrang, dia masih akan bertarung tapi hanya untuk ku".., aku pribadi juga harus mengawasinya dan membuatnya sangat dekat dengan ku.., karena sesorang harus menjaga prisainya lebih dekat dengannya daripada pedangnya", jika anak ini dibimbing seperti yang aku inginkan dia akan melindungi ku.., dan jika dia dbimbing oleh orang lain dia akan menyerang ku sebagai gantinya". Daaima bertanya "Tapi bagaimana jika dia tidak memenuhi semua harapan mu?". Dhanaand bertanya pada Daaima "Oh.. kenapa?".., kenapa mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah kau ketahui?". Daaima tersenyum, Dhananad tertawa. Dhaanand berkata pada Daaima "Jau tidak perlu kahwatir dulu, bocah ini pasti akan menemukan cara untuk menangani situasi dengan keterampilan dan kecerdasannya".Daaima menganggukan kepalanya.
Chnadragupta menghindat ketika Samandev akan menusukkan pedangnya dan mengalahkannya, Chandragupta berlari menuju tempat dimana Durdhara dan Shipra bediri dan bebrapa orang prajuirt mengejarnya dari belakang, Chndragupta memanjat tembok dan sampai pada Durdhara, ia mengambil Duppata Durdhara dan membuatnya terkejut, Chandragupta kembali turun dengan Duppatanya. Chandragupta memukul semua prajurit dengan Duppata milik Durdahra. Chandragupta mengelap darah dimulutnya dan melihat Durdhara, Chndragupta kembali ke kooridor dan melemparkan Duppata Durdhara ke mukanya, Durdhara kesal. Chandragupta berkata pada Durdhara "beberapa saat yang raja Magadha membuat aku berjanji bahwa untuk menjadi pengawal mu.., aku harus melindungi mu sebelum aku melindungi diri ku sendiri".., aku memibta pada mu untuk tidak meciptakan situasi dimana aku akan menyesal untuk mempertaruhkan hidup ku untuk seorang gadis yang sombong, angkuh, kasar dan egois". Durdhara berkata pada Chadnragupta dengan sangat marah "sepertinya kau tidak tahu apa yang akan terjadi pada orang yang berperilaku tidak pantas dengan ku untuk terakhir kalinya". Chandragupta tersentak, Durdhara berkata "Ya, kau benar".., petani yang sama yang telah melemparkan bawang di jalan ku". Chandragupta berjalan pergi.
Nenek tua (Ibu dari petani bawang) menangis dan memohon "Maafkan anak ku, kasihanilah.., biarkan aku pergi!". Ibu itu terus berteriak untuk membiarkannya pergi dan meminta tolong. Chandragupta melihatnya. Nenek tua berkata "Jangan bunuh dia.., tolong jangan bunuh dia".., kau bisa menghukum ku seperti yang kau inginkan". Chandragupta mengingat petani bawang dan wanita tua itu yang dicambuki dan kata-kata Dirdhara. Nenek tua mengenali Chandragupta "Kau?".., dengar, orang-orang ini membawa putra ku untuk membunuhnya.., mintalah pada raja untuk memaafkannya, hanya dia yang ku miliki saat ini.., hentikan mereka untuk membunuh putra ku". Wanita tua itu meminta kemurahan hati Chandragupta dan menangis
Comments
Post a Comment